Hangatnya Sore Bersama Kue Cubit Hijau Pandan di Depan Sekolah



Oleh Alexander Gloryus

Sore itu langit tampak sedikit muram, awan abu-abu menggantung rendah seolah menahan gerimis yang belum turun. Saya berjalan santai tanpa tujuan jelas, hanya ingin menikmati udara sore yang lembap setelah seharian di rumah. 

Di tengah langkah yang pelan, aroma manis pandan tiba-tiba tercium samar dari arah depan. Seperti punya magnet, langkah saya otomatis berhenti di depan sebuah gerobak biru dengan bagian atas dan bawah berlapis plat besi silver. Di sanalah sumber aroma itu berasal—gerobak kue cubit sederhana di depan sebuah sekolah yang sudah mulai sepi.



Suasana

Sekolah di depan gerobak itu tampak tenang. Hanya ada beberapa anak yang pulang, sebagian besar sudah hilang di tikungan jalan. Di sekitar saya, suasananya sepi tapi tidak sunyi—ada suara wajan kecil mendesis, dan wangi pandan yang berpadu dengan udara sore yang lembap. Abang penjualnya tampak sudah berumur sekitar empat puluh tahunan, berwajah ramah dan bekerja dalam diam. Tidak ada musik yang diputar, tidak ada suara ramai, hanya suara spatula logam yang menyentuh cetakan. Ada sesuatu yang menenangkan dari kesederhanaan itu; seolah waktu berjalan lebih pelan di sekitar gerobak biru itu.

Pelayanan



Saya memesan satu loyang kue cubit, isi sepuluh potong, dengan topping meses cokelat. “Sepuluh ribu aja,” kata si abang dengan senyum kecil. Ia mulai menuang adonan hijau ke cetakan bulat-bulat kecil, lalu menambahkan meses di atasnya. Prosesnya sederhana tapi menarik untuk dilihat—adonan yang awalnya cair mulai mengembang perlahan, permukaannya berpori halus, dan wangi pandan makin terasa kuat. Saat kue sudah mulai matang, abangnya menutup wajan, menunggu sebentar, lalu membuka tutupnya dengan gerakan terlatih. Warna kecokelatan muncul di bagian pinggir, tanda kue sudah siap disantap.

Pendapat Pribadi

Saya langsung mencicipinya di tempat, sambil berjalan pelan meninggalkan gerobak. Kue cubitnya masih hangat, teksturnya lembut, dan bagian tengahnya sedikit lumer. Taburan meses di atasnya meleleh, memberikan rasa manis yang pas tanpa berlebihan. Meskipun harganya hanya sepuluh ribu untuk sepuluh potong, rasa dan teksturnya sama sekali tidak terasa “murahan.” Ada keseimbangan antara aroma pandan yang wangi, rasa adonan yang gurih-manis, dan sensasi lembut di mulut yang bikin ingin makan pelan-pelan biar nggak cepat habis.

Bagi saya, jajanan seperti ini bukan cuma soal rasa, tapi juga suasana yang menyertainya. Mungkin karena dimakan sambil jalan sore di bawah langit mendung, semuanya terasa lebih tenang. Kue cubit ini sederhana, tapi justru di situlah letak keistimewaannya—nggak berlebihan, nggak pura-pura, hanya kehangatan kecil yang jujur dari tepung, gula, pandan, dan tangan terampil penjualnya.

Edukasi: Asal dan Nilai Budaya

Gambar Poffertjes
Sumber : https://www.recipesfromeurope.com/poffertjes/

Kalau ditelusuri, kue cubit ini punya sejarah yang cukup panjang. Banyak yang bilang jajanan ini berasal dari pengaruh Belanda, khususnya kudapan kecil bernama poffertjes. Bedanya, versi Indonesia dibuat lebih manis dan sering diberi warna hijau pandan yang khas. Warna dan aroma pandan bukan cuma buat mempercantik tampilan, tapi juga mencerminkan cita rasa lokal yang alami.

Di beberapa daerah, pandan dianggap tanaman istimewa karena aromanya menenangkan dan sering digunakan dalam berbagai kuliner tradisional. Penggunaan pandan di kue cubit menunjukkan bagaimana masyarakat Indonesia bisa beradaptasi dan menambahkan sentuhan lokal ke makanan yang awalnya berasal dari luar negeri. Selain itu, keberadaan kue cubit di pinggir jalan juga menggambarkan betapa kuatnya budaya kuliner kaki lima di Indonesia—tempat di mana tradisi, kreativitas, dan rasa hangat bertemu di satu wajan kecil.

Kata Penutup

Dari luar, gerobak biru itu mungkin tampak biasa. Tapi bagi saya, sore itu terasa istimewa. Ada sesuatu yang menenangkan dari momen sederhana seperti menikmati kue cubit di depan sekolah yang hampir sepi. Mungkin karena di setiap aroma pandan dan gigitan lembutnya, ada kenangan masa kecil yang seolah muncul kembali.

Pesona Nusantara memang nggak selalu datang dari hal besar atau megah. Kadang, ia hadir dalam bentuk sederhana—seperti kue cubit hijau pandan di pinggir jalan, yang dimasak dengan sabar oleh tangan yang sudah terbiasa menebar kehangatan. Di bawah langit mendung sore itu, saya menyadari bahwa keindahan Indonesia bisa sesederhana rasa manis yang melekat di lidah dan senyum kecil dari penjual yang setia menjaga rasa tradisi.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Mencoba Cita Rasa Manado di Jakarta : Pengalaman Makan di Restoran Sarang Oci

"Mie Ayam GG Pak Eko: Sebuah Gerobak Mie Ayam yang Tak Pernah Sepi"

Ayam Goreng Mba Ni : Gurihnya Bikin Nagih