Dendeng Sapi: Cinta Pertama, Rasa Manis, dan Kenangan yang Hilang

Oleh : Alexander

Biasanya, kalau ada obrolan tentang "Apa sih makanan favorit lo?", jawaban orang-orang pasti nggak jauh-jauh dari makanan mewah. Ada yang jawab steak, seafood yang harganya selangit, babi guling, atau ayam bakar. Atau, jawaban klise tapi valid: "Masakan Ibu adalah yang terbaik."

Memang sih, makanan favorit itu biasanya bukan cuma soal rasa, tapi soal memori. Ada kehangatan keluarga atau momen spesial di setiap suapannya. Nah, kali ini aku mau cerita soal makanan favorit masa kecilku. Pilihanku mungkin agak underrated kalau dibandingin sama steak wagyu, tapi aku punya hubungan emosional yang unik banget sama makanan ini.

Namanya: Dendeng Sapi.


Buat yang belum familiar (masa sih belum tau?), dendeng itu olahan daging sapi yang diiris tipis-tipis, dibalur rempah-rempah melimpah, terus dibakar sampai bumbunya meresap sempurna ke dalam serat dagingnya.

Pertemuan Pertama si Bocil Micin

Jujur, dari kecil aku itu emang tim daging sapi garis keras. Lidah "bocil micin" aku ngerasa kalau daging sapi itu rasanya jauh lebih "nendang" dan kuat dibanding ayam atau ikan.

Ceritanya bermula di siang hari yang biasa banget. Mama pulang dari pasar, bawa tentengan belanjaan buat masak siang. Sebagai anak kecil yang sok tau, aku cuma mikir, "Ah, paling Mama masak sop bakso lagi." Jadi, ya aku lanjut main aja.

Sampai akhirnya jam makan siang tiba. Di piringku tersaji sesuatu yang asing. Bentuknya pipih, warnanya gelap, agak gosong-gosong dikit. First impression-ku waktu itu: "Ini apaan dah? Kok gosong?"

Tapi, pepatah don't judge a book by its cover itu bener adanya. Pas Mama nyuapin suapan pertama... BOOM!

Ternyata daging yang kelihatan sangar itu empuk banget! Gampang banget dikobet (disuwir) pake tangan. Rasanya? Wah, kacau. Ada perpaduan rasa gurih dan manis yang kuat, ditambah aroma smokey khas bakaran yang bikin nagih. Teksturnya beda banget sama steak yang kadang alot. Dendeng ini kalau dimasak dengan tepat, dagingnya lembut banget kayak lumer di mulut.

Sejak saat itu, dendeng resmi jadi tahta tertinggi di daftar makanan favoritku. Saking cintanya, aku punya ritual makan sendiri: Nasi abis duluan, dendengnya dimakan belakangan. Dinikmati pelan-pelan biar rasanya awet di lidah.



Tragedi Gerobak yang Hilang

Dendeng ini bukan makanan harian karena harganya lumayan mahal buat kami waktu itu. Jadi, momen nemenin Mama ke pasar buat beli dendeng di "Abang-abang langganan" itu rasanya kayak mau pergi liburan. Seneng banget!

Tapi, namanya hidup, kadang ada perpisahan yang nggak kita duga.

Suatu hari, aku sadar kalau udah lama banget nggak makan dendeng. Isenglah aku nanya ke Mama, "Ma, kok udah nggak pernah beli dendeng lagi sih?"

Aku pikir jawabannya bakal standar, kayak Abangnya pulang kampung atau pindah lapak. Tapi jawaban Mama hari itu bikin hati kecilku patah.

"Gerobak Abangnya kebakaran," jawab Mama singkat.

Aku nggak tau detailnya. Kapan kejadiannya, kenapa bisa terbakar, atau gimana nasib si Abang penjualnya. Yang jelas, sejak insiden itu, si Abang nggak pernah jualan lagi di pasar. Hilang begitu saja.

Dendeng Hari Ini

Sejak saat itu, aku jadi jarang banget makan dendeng. Paling cuma kalau ada oleh-oleh atau kalau Mama lagi "kepengen" banget masak sendiri, itu pun mungkin cuma setahun sekali.

Sekarang, setelah dewasa dan punya uang sendiri, aku sebenernya bisa beli dendeng kapan aja. Tapi entah kenapa, rasanya beda. Dendeng-dendeng mahal di restoran atau toko oleh-oleh rasanya enak, tapi nggak ada yang bisa nyamain rasa dendeng buatan Abang-abang gerobakan di pasar dulu.

Mungkin bumbunya beda, atau mungkin karena kenangannya yang nggak bisa dibeli lagi. Walaupun begitu, dendeng tetap jadi makanan nomor satu di hati aku.

Kalau kalian gimana? Punya pengalaman makanan favorit masa kecil yang penjualnya tiba-tiba hilang kayak aku? Coba cerita di kolom komentar, ya! Siapa tau nasib kita sama. :')






Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Mencoba Cita Rasa Manado di Jakarta : Pengalaman Makan di Restoran Sarang Oci

"Mie Ayam GG Pak Eko: Sebuah Gerobak Mie Ayam yang Tak Pernah Sepi"

Ayam Goreng Mba Ni : Gurihnya Bikin Nagih