Sarapan Soto Tangkar Buatan Mama
oleh : Alexander Gloryus
Pagi ini aku bangun dengan mood yang lumayan datar. Nggak jelek, tapi juga belum ke level “semangat 45”. Tapi semuanya berubah ketika mama masuk kamar sambil bilang, “Sarapan, ya. Mama beli soto tangkar.” Rasanya langsung ada percikan kecil kebahagiaan—yang cuma bisa dipahami kalau kamu juga tipe orang yang gampang senang cuma gara-gara makanan enak.
Soto tangkar ini datang dalam dua porsi: satu mangkok sotonya saja, satu lagi soto tangkar lengkap pakai nasi. Dari aromanya aja udah kelihatan kalau ini bukan tipe soto yang “kosong”—kuahnya lebih pekat, warnanya lebih berani, dan terasa wangi santan serta rempah yang khas. Sebelum makan, aku sempat motret dulu, mumpung masih cantik.
Saat pertama kali diseruput, kuahnya langsung nendang. Soto tangkar itu identik dengan kuah gurih yang biasanya dibuat dari santan, cabai, bawang merah, bawang putih, ketumbar, jahe, sama kunyit. Ada juga aroma khas dari iga sapi yang bikin kuahnya lebih dalam dan kaya rasa. Mungkin itu juga yang bikin soto tangkar terasa lebih “berisi” dibanding soto biasa.
Soto tangkar ini sebenarnya adalah kuliner khas Betawi. Katanya, dulu “tangkar” itu merujuk ke bagian iga atau daging dekat tulang rusuk yang dulu dianggap bagian murah. Tapi justru dari bagian yang sederhana itu muncul sajian seenak ini. Sekarang malah jadi salah satu makanan khas Jakarta yang terkenal. Kadang hal-hal sederhana justru yang bertahan lama, ya.
Setelah nyobain mangkok pertama tanpa nasi, aku lanjut ke versi yang pakai nasi. Rasanya beda banget vibe-nya. Makan pakai nasi bikin kuahnya lebih nempel dan setiap suapan terasa lebih “punchy”. Aku pribadi sih suka dua-duanya, tapi kalau lagi lapar banget, soto tangkar dengan nasi itu emang juaranya.
Yang bikin makin enak adalah momen makannya. Ada sensasi makan di rumah, dengan suasana santai, ditemenin mama yang sibuk di dapur. Kadang makanan itu bukan cuma soal rasa, tapi juga suasana yang datang barengnya. Dan pagi ini, semuanya terasa pas: perut lapar, makanan hangat, dan waktu yang pelan.
Sambil makan, aku kepikiran betapa makanan khas daerah itu punya cerita masing-masing. Soto tangkar bukan cuma sup santan dengan daging iga. Dia juga bagian dari budaya Betawi, dari kebiasaan orang dulu yang kreatif mengolah bahan sederhana jadi makanan yang luar biasa. Dan sekarang aku menikmati hidangan yang sama, di pagi biasa, sebagai bagian dari rutinitas kecil yang bikin hidup terasa nyaman.
Paragraf terakhir ini aku habiskan sambil menyeruput kuah terakhir di dasar mangkok. Hangat, gurih, dan bikin puas. Sarapan hari ini bukan sesuatu yang mewah atau luar biasa. Tapi justru di kesederhanaan itu ada kebahagiaan kecil yang bikin pagi lebih enak dijalani.
Kalau ditanya apa highlight pagi ini, jawabannya simpel: soto tangkar buatan mama. Rasanya enak, momennya hangat, dan bikin mood naik satu level. Kadang, yang kita butuhkan buat memulai hari cuma semangkuk soto dan perhatian kecil dari orang rumah.
Enak banget dibikinin
ReplyDeleteIri bilang boss
Deleteenak tuh tiap hari makan soto
ReplyDeleteGk tiap hari juga kali
Deletebest combo emggg!!!
ReplyDeleteMnataaaapsz
DeleteEmak lu jago masakk coy
ReplyDeleteYoiii
DeleteLawan yg sebanding sama Soto babat gw
ReplyDeleteGAS ADU
DeleteJadi kepengen atuhhh
ReplyDeleteBeli sendiri udh gede
Delete